
Selama 11 tahun
era kepemimpinan arsene wenger di arsenal sejak mengambil alih kursi manager
dari tangan Bruce Rioch pada tahun 1996,
mungkin musim kompetisi 2006-2007 ini adalah salah satu musim terburuk
seperti halnya musim sebelumnya. Pada tahun-tahun awal di highbury wenger
langsung menggebrak dan puncaknya double
champion (juara EPL dan FA cup) diraih pada tahun 1998. Kala itu arsenal
bertumpu pada pemain yang memang telah matang ditambah beberapa pemain baru dan
pemain bawaan Wenger dari dari AS Monaco. Meskipun musim berikutnya Arsenal
tersandung di akhir-akhir kompetisi dan gelar direbut oleh MU praktis sampai
dengan musim 2005 Arsenal selalu diperhitungkan sebagai kandidat juara.
Prestasi spektakuler lainnya selain double
champion lagi pada tahun 2004 adalah rekor tidak terkalahkan satu musim
kompetisi dan mencetak rekor unbeaten selama 49 pertandingan. Dalam era ini
punggawa arsenal tidak lain hasil dari kejelian wenger dalam melihat potensi
pemain yang tersia-sia di klub lain seperti Vieira dan King Henry.
Bisa dikatakan
bahwa EPL adalah kompetisi liga terbaik didunia saat ini. Sebuah proses
pencapaian yang memakan waktu belasan tahun sejak terbebas dari sanksi UEFA
pasca tragedi Heysel. Disaat liga-liga eropa lainnya dilanda skandal memalukan
EPL muncul menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur. Bahkan mereka-mereka
yang dulunya tidak suka dengan EPL banyak yang berbalik jadi menyukai.
Kejayaan ini
dipertegas lagi dengan masuknya investor baru dari luar England dimulai dengan kehebohan saat Roman Abramovich
mengambil alih Chelsea.
Dengan dana tidak terbatas orang Rusia ini mulai membangun kerajaannya dengan
mendatangkan manager dan pemain-pemain terbaik dunia. Tak lama berselang Dunia
sepakbola England
kembali dikejutkan dengan masuknya Malcolm Glazier dan membeli MU. Tercatat
sekarang ini empat klub dengan reputasi besar di england
dimiliki oleh investor dari luar, dua lainnya Aston Villa yang sudah dikuasai
oleh Randy Lerner dan demikian juga dengan Liverpool.
Rumor terakhir mengatakan bahwa arsenal sedang diendus-endus oleh milyarder
amerika Koenke.
Fenomena seperti ini biasa dalam dunia bisnis,
investor akan berbondong masuk ke sebuah bisnis yang menggiurkan dan memberikan
hasil yang siknifikan dan memang industri sepakbola inggris adalah sebuah
industri yang menjanjikan dapat dilihat dari besarnya uang yang berputar
disini.
Untuk
mendatangkan keuntungan finansial, prestasi maksimal harus diraih oleh setiap
klub. Tanpa prestasi hasilnya akan nihil. Untuk mendatangkan prestasi dibutuhkan
sumberdaya yang memadai berupa pemain-pemain yang bagus dengan pelatih yang
berkarakter dan atmosfer klub yang sehat.
Kalau dirunut
kebelakang mencorongnya prestasi MU pada tahun 1990-an adalah hasil dari
pembinaan pemain muda oleh manager Sir Alex Ferguson sehingga menghasilkan
bintang-bintang yang menjadi tulang punggung MU dalam menggapai prestasi
meskipun Sir Alex juga sering membeli pemain-pemain bintang. Hal yang hampir sama diikuti oleh Arsene Wenger
dimana dia membeli pemain berharga murah dan memolesnya hingga menjadi pemain
bintang. Sebuah sistem manajerial yang sangat bagus sebenarnya. Yang menjadi
persoalan adalah industri sepakbola England sekarang telah berubah.
Pencapaian prestasi tertinggi adalah hal terpenting. Investor yang telah menanamkan
uangnya tidak mau melihat klubnya melempem tidak bertaring karena tanpa
prestasi maka keuntungan finansial pun
tidak akan mencapai apa yang diharapkan.
Kompetisi Liga
champion merupakan gudang uang bagi klub yang berpartisipasi sehingga setiap
klub berupaya keras untuk dapat tampil disini. Klub dengan prestasi bagus
selalu diincar oleh perusahaan-perusahaan besar sebagai media untuk berpromosi,
uang juga bermain disini. Ditambah lagi dengan penjualan merchandise klub akan
meningkat bila sebuah klub berprestasi. Suporter juga akan berbondong-bondong
menonton di stadion bila klub mereka menunjukkan prestasi yang bagus. Semua ini
terkait dengan uang yang akan menghidupi klub.
Mencetak dan
mematangkan pemain-pemain muda memang sebuah metode kepelatihan yang bagus
tetapi arsene wenger harus pula memikirkan prestasi yang mulai menjauh dalam
beberapa tahun terakhir ini. Melorotnya prestasi Arsenal disebabkan oleh
banyaknya pemain –pemain muda yang miskin pengalaman meskipun dalam beberapa
tahun mendatang pemain-pemain ini akan menjadi bintang. Tetapi saat ini
sepertinya menunggu bukan lagi pilihan yang tepat. Semakin lama menunggu maka akan semakin lama pula
prestasi menjauhi.
Musim kompetisi mendatang adalah saat yang tepat
bagi Wenger membentuk tim yang kuat dengan tidak segan-segan lagi meminta
kepada direksi anggaran belanja pemain yang cukup untuk mendatangkan
pemain-pemain bagus yang dibutuhkan dan bukan lagi untuk membeli pemain-pemain
muda yang akan dibentuk. Setelah hijrah dari Highbury ke Emirates Stadium yang
berkapasitas minimum 60.000 tempat duduk dapat dipastikan pendapatan dari
penjualan tiket pertandingan juga meningkat. Dengan cash flow yang sehat anggaran untuk belanja pemain mestinya juga
dapat ditingkatkan. Tidak ada lagi
alasan bagi direksi untuk tidak menambah dana pembelian pemain. Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah keinginan Wenger merubah kebijakannya dalam memilih
pemain. Apakah akan terus-terusan berinvestasi jangka panjang dengan mencari
pemain-pemain muda tetapi kesulitan dalam berprestasi ataukah mulai mencari
pemain yang sudah jadi dan membentuk tim yang dapat berbicara banyak baik di
daratan England maupun Eropa. Sesuatu yang wajib untuk ditunggu.
*opini pribadi yang agak subjektif*