Iklan setengah halaman di kompas sabtu 1 maret 2008 premiere Chicago , USA property launch dapat dipastikan bahwa iklan ini ditujukan kepada calon pembeli potensial di Indonesia karena dimuat di media lokal kompas. Iklan ini sah sah saja karena setiap penjual pastinya akan mempromosikan produknya kepada calon pembeli yang menurut riset mereka potensial. Pertanyaannya adalah apakah rakyat Indonesia berpotensi untuk membeli apartemen yang diiklankan ini yaitu The Chicago Spire yang di klaim sebagai “salah satu bangunan tempat tinggal tertinggi di dunia dan menghadap danau Michigan”?
Ini kurang lebihnya sama dengan sebuah artikel yang pernah gw baca di majalah mode dan lifestyle beberapa tahun yang lalu tentang seorang wartawan yang diundang oleh EO pameran perhiasan dan batu-batu permata yang diadakan di salah satu Negara eropa *lupa Negara mana*. Sang wartawan bertanya kepada EO yang mengundang kenapa hanya wartawan dari belasan Negara saja yang diundang termasuk dirinya yang berasal dari Indonesia, serta apakah masyarakat Indonesia tertarik dengan perhiasan yang berharga supermahal tersebut mengingat Indonesia masih belum lepas dari krisis ekonomi. Si EO menjawab bahwa tentu saja masyarakat Indonesia merupakan pembeli potensial kalau tidak mana mungkin mereka mengundang sang wartawan dengan membiayai semua biaya perjalanannya.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Indonesia tidak kekurangan orang kaya, bahkan menurut riset terakhir dari sebuah NGO asing, Indonesia termasuk lima besar Negara dunia yang paling tinggi pertumbuhan manusia kayanya.
Disisi lain dalam realita kehidupan sehari-hari yang banyak tersaji didepan mata kita adalah potret kemiskinan yang semakin merajalela. Bisa diperhatikan berapa banyak pengemis, pemulung, pengamen, pedagang asongan, bocah-bocah yang seharusnya duduk dibangku sekolah terpaksa atau dipaksa untuk berkeliaran dijalan mencari nafkah. Mereka ini termasuk dalam masyarakat yang hidup dengan uang kurang dari dua dolar sehari dan menurut bank dunia disinyalir berjumlah lebih kurang 40 juta orang dan cenderung bertambah, dari total 250 juta penduduk Indonesia *indicator ini langsung dibantah oleh pemerintah*
Kesimpulan lagi bahwa meskipun jumlah orang kaya bertambah banyak, jumlah orang miskin juga bertambah banyak *meskipun pemerintah meng klaim telah dapat mengurangi angka kemiskinan*
Kalau kita lihat perbedaan antara orang kaya dan orang miskin kita semuanya setuju bagaikan langit dan bumi. Orang kaya dapat membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang mewah tanpa pikir panjang demi prestise dan gengsi, sementara si miskin harus banting tulang hanya sekedar untuk makan dua kali sehari *kadang pun hanya sekali sehari*
Kalau gw menyebutnya bagai langit dan comberan. Si kaya duduk di singgasana langit dikipasi dayang-dayang, sementara si miskin berkubang di comberan busuk dan penuh Lumpur. Suka atau tidak suka itulah yang terjadi di indonesia dan dunia sekarang ini.
Dengan kondisi seperti ini siapa yang harus disalahkan? Sebagian penduduk dunia antiglobalisasi dengan gamblang menuduh globalisasi dan kapitalisme dunialah yang menjadi biang kerok ini semua. Betapa tidak dengan globalisasi dunia menjadi borderless, terbentuk lah pasar bebas, perusahaan-perusahaan negara di privatisasi, mereka yang punya duit dapat membeli apa saja dibelahan dunia mana saja *kecuali di negara sosialis seperti cuba*. Sumber daya alam dikuras habis-habisan demi keuntungan trans nasional corporation yang menjadi motor utama globalisasi, sementara negara sebagai pemilik sumber daya alam hanya kebagian upilnya dan rakyat setempat hanya menjadi penonton. Ditambah lagi mental korup pejabat publik. Gambaran ini terdengar bombastis tetapi inilah realita yang ada.
Belakangan ini kita mendengar, melihat dan merasakan terjadinya peningkatan harga komoditas seperti minyak bumi dan CPO (minyak kelapa sawit mentah). Kenaikan ini membuat dunia kelimpungan karena komoditas ini bisa disebut komoditas primer, dan kenaikan harga akan memicu inflasi. Menurut analis peningkatan harga disebabkan oleh strong demand dari pasar. Ini bisa dibenarkan dalam hukum ekonomi bila demand meningkat maka harga akan naik. Tetapi bila dicermati mungkinkah harga minyak bumi bisa melonjak 200% dalam kurun waktu tiga tahun meskipun permintaan melonjak?
Secara hitungan bodoh aja bila seorang penduduk dunia membutuhkan minyak seliter sehari maka harga akan naik 100% bila kebutuhan meningkat menjadi dua liter sehari, atau kebutuhan tetap tetapi jumlah penduduk meningkat menjadi dua kali lipat. Apakah rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 200% dalam tiga tahun? Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia hanya satu digit pertahun. Apakah suplai yang menurun? Bisa jadi tetapi reserve terbukti saat ini masih cukup untuk 20 tahun mendatang. Jadi apa penyebabnya?
Para ekonom dan analis menuduh para hedge fund lah yang menjadi biang masalah gonjang ganjing ini. Hedge fund ini adalah manajer investasi dari investasi kolektif semacam reksadana yang kliennya adalah manusia superkaya dunia. Hedge fund dituntut untuk selalu memberikan keuntungan kepada nasabah mereka. Tuntutan seperti ini membuat para manajer investasi hedge fund menggunakan segala cara untuk memenuhi tuntutan klien dan mereka ini banyak yang melakukan kecurangan, manipulasi dan spekulasi. Dana mereka sangat besar. Menurut informasi terakhir ada 516 triliun dolar AS *hitung sendiri berapa rupiah tuh*. Dengan dana sebesar itu mereka dapat mengontrol harga komoditas maupun saham dan mengeruk keuntungan.
Hedge fund ini menari-nari didepan penderitaan orang lain. Mereka tambah kaya sedangkan yang lain bertambah miskin. Uang memang paling berkuasa didunia. Tetapi menurut gw masih ada yang lebih berkuasa yaitu tuhan. So bagaimana tuhan akan menunjukkan kekuasaannya? Apakah kapitalisme akan berakhir? Sepertinya tidak karena kapitalisme sangat dekat dengan nafsu manusia. Seberapa banyak manusia yang dapat menahan nafsu untuk menjadi kaya dan hidup senang? Jawab sendiri deh...