**Victoria Concordia Crescit**

Indra Zen 's posts with tag: globalisasi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag globalisasi
Posted by Indra Zen on Apr 21, '08 11:11 PM for everyone

Adanya serangan atas kapal tanker jepang Takayama kemaren telah membuat harga minyak mentah NYMEX  melonjak menjadi 117 USD perbarrel. Hanya dalam hitungan jam lagi angka 120 USD pasti akan tercapai. Harga yang akan membuat dunia semakin sulit keluar dari krisis. Indonesia sebagai net importir minyak sekarang ini berada dalam jurang yang menganga lebar. Kenaikan harga minyak tidak memberi kontribusi yang nyata bagi pemerintah apalagi lifting minyak tidak sesuai dengan asumsi. Kenaikan harga yang seharusnya menjadi windfall profit menjadi tidak berarti karena beban subsidi yang membengkak.

 

Dengan harga minyak sekarang ini beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah lebih dari 250 trilliun rupiah (25% dari total APBN), menyebabkan defisit anggaran naik menjadi 1,7% dari produk domestic bruto. Langkah apa yang akan dilakukan pemerintah untuk menambal defisit anggaran? Ada dua opsi tapi akan menjadi dilemma bagi pemerintah. 

 

Pertama tidak menaikkan harga BBM artinya subsidi dipertahankan. Ini adalah pilihan yang populis bagi pemerintah untuk menghadapi pemilu mendatang. Apa konsekuensi dari pilihan ini? Defisit anggaran yang besar, beban fiscal membengkak. Pemerintah harus mencari tambahan untuk menambal anggaran. Mungkin akan mencari utang baru, menggenjot penerimaan dari sector pajak, privatisasi BUMN, melakukan efisiensi dan penghematan anggaran.

 

Mari kita telaah point-point diatas: mencari utang baru bukanlah pilihan yang bijak. Utang pemerintah sudah cukup banyak dan akan semakin menambah masalah dimasa datang. Dengan keadaan ekonomi seperti sekarang ini para wajib pajak sudah babak belur dan akan sangat sulit menjaring calon wajib pajak. Hal ini terbukti membuat dirjen pajak pak darmin nasution kelabakan. BUMN sudah banyak yang tergadai kepada pihak asing dan banyak kalangan yang tidak setuju dengan langkah ini. Efisiensi memang harus dilakukan, tapi menghemat anggaran justru dapat berakibat tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi karena sekarang ini perekonomian justru ditopang oleh sector konsumsi dan pengeluaran pemerintah.

 

Jelas kalau poin-poin diatas agak sulit dilakukan dan apabila benar-benar gagal maka public akan tidak mempercayai pemerintah dalam mengelola fiskal. Investor asing akan kabur dan Indonesia akan semakin merana

 

Pilihan kedua, menaikkan harga BBM yang artinya mencabut subsidi BBM. Sebuah pilihan yang sama sekali tidak populis. Kenaikan harga BBM akan memacu inflasi tinggi, sama juga dengan membunuh rakyat karena dapat dipastikan kenaikan harga barang tidak diikuti oleh kenaikan penghasilan. Malahan akan ada PHK besar-besaran dari industri kecil yang tidak dapat bertahan karena tingginya harga BBM. Inflasi tinggi juga akan membuat BI mengerek suku bunga, kebijakan uang ketat, kredit seret, ekonomi mengalami stagnasi.

 

Sungguh-sungguh pilihan yang sulit, bagaikan memilih buah simalakama. Saat ini pemerintah harus mengkaji dengan serius  konsekuensi dari keputusan yang akan diambil nanti. Keputusan tersebut haruslah yang memiliki resiko paling sedikit dan memiliki visi jangka panjang. Jangan sampai hanya yang berorientasi jangka pendek.

 

Ayo bapak-bapak dan ibu-ibuku di sidang kabinet. You can do it, it’s the right time for you to show who you really are, makes the right decision. 250 millions of Indonesian people counting on you. Do not let us down anymore.


Posted by Indra Zen on Apr 11, '08 12:38 AM for everyone

 

Berita yang lagi hangat-hangatnya dalam tatanan global sekarang adalah kenaikan harga pangan dunia. Tak kurang badan dunia dan  pemimpin negara-negara maju dan berkembang mengkhawatirkan kondisi ini. Krisis pangan bisa saja terjadi dalam waktu dekat kalau harga pangan tidak segera turun dan dapat dijangkau kaum marjinal.

 

Zaman dahulu kala robert malthus pernah mengemukakan teori keseimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan pangan.  Penduduk tumbuh sesuai deret ukur sementara pangan tumbuh sesuai deret hitung. Pertumbuhan yang tidak seimbang. Teori ini ada benarnya tetapi tidak sedikit juga yang kurang setuju dengan alasan bahwa manusia akan menemukan inovasi baru untuk memproduksi bahan pangan secara terus menerus.

 

Tapi yang terjadi saat ini adalah diluar semua teori-teori yang ada. Hanya ada satu teori yang berlaku yaitu supply and demand. Dan teori ini bukan dipraktekkan di pasar-pasar tradisional maupun hipermarket ataupun antara petani dan tengkulak. Tetapi ada di bursa komoditas seperti CBOT (chicago board of trade). Dibursa inilah harga beras ditentukan. Baik pembeli dan penjual bukanlah mereka yang akan membawa pulang beras untuk ditanak menjadi nasi. Pembeli dan penjual hanya menjual kertas-kertas kontrak kepemilikan. Spekulan berduit tidak terbatas bermain disini.

 

Inilah kapitalisme globalisasi yang menjadi hantu gentayangan bagi dunia. dimanakah tuhan saat ini?


Posted by Indra Zen on Mar 2, '08 9:11 AM for everyone

Iklan setengah halaman di kompas sabtu 1 maret 2008 premiere Chicago , USA property launch dapat dipastikan bahwa iklan ini ditujukan kepada calon pembeli potensial di Indonesia karena dimuat di media lokal  kompas. Iklan ini sah sah saja karena setiap penjual pastinya akan mempromosikan produknya kepada calon pembeli yang menurut riset mereka potensial. Pertanyaannya adalah apakah rakyat Indonesia berpotensi untuk membeli apartemen yang diiklankan ini yaitu The Chicago Spire yang di klaim sebagai “salah satu bangunan tempat tinggal tertinggi di dunia dan menghadap danau Michigan”?

 

Ini kurang lebihnya sama dengan sebuah artikel yang pernah gw baca di majalah mode dan lifestyle beberapa tahun yang lalu tentang seorang wartawan yang diundang oleh EO pameran perhiasan dan batu-batu permata yang diadakan di salah satu Negara eropa *lupa Negara mana*. Sang wartawan bertanya kepada EO yang mengundang kenapa hanya wartawan dari belasan Negara saja yang diundang termasuk dirinya yang berasal dari Indonesia, serta apakah masyarakat Indonesia tertarik dengan perhiasan yang berharga supermahal tersebut mengingat Indonesia masih belum lepas dari krisis ekonomi. Si EO menjawab bahwa tentu saja masyarakat Indonesia merupakan pembeli potensial kalau tidak mana mungkin mereka mengundang sang wartawan dengan membiayai semua biaya perjalanannya.

 

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Indonesia tidak kekurangan orang kaya, bahkan menurut riset terakhir dari sebuah NGO asing, Indonesia termasuk lima besar Negara dunia yang paling tinggi pertumbuhan manusia kayanya.

 

Disisi lain dalam realita kehidupan sehari-hari yang banyak tersaji didepan mata kita adalah potret kemiskinan yang semakin merajalela. Bisa diperhatikan berapa banyak pengemis, pemulung, pengamen, pedagang asongan, bocah-bocah yang seharusnya duduk dibangku sekolah terpaksa atau dipaksa untuk berkeliaran dijalan mencari nafkah. Mereka ini termasuk dalam masyarakat yang hidup dengan uang kurang dari dua dolar sehari dan menurut bank dunia disinyalir berjumlah lebih kurang 40 juta orang dan cenderung bertambah, dari total 250 juta penduduk Indonesia *indicator ini langsung dibantah oleh pemerintah*

 

Kesimpulan lagi bahwa meskipun jumlah orang kaya bertambah banyak, jumlah orang miskin juga bertambah banyak *meskipun pemerintah meng klaim telah dapat mengurangi angka kemiskinan*

 

Kalau kita lihat perbedaan antara orang kaya dan orang miskin kita semuanya setuju bagaikan langit dan bumi. Orang kaya dapat membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang mewah tanpa  pikir panjang demi prestise dan gengsi, sementara si miskin harus banting tulang hanya sekedar untuk makan dua kali sehari *kadang pun hanya sekali sehari*  

 

Kalau gw menyebutnya bagai langit dan comberan. Si kaya duduk di singgasana langit dikipasi dayang-dayang, sementara si miskin berkubang di comberan busuk dan penuh Lumpur. Suka atau tidak suka itulah yang terjadi di indonesia dan dunia sekarang ini.

 

Dengan kondisi seperti ini siapa yang harus disalahkan? Sebagian penduduk dunia antiglobalisasi dengan gamblang menuduh globalisasi dan kapitalisme dunialah yang menjadi biang kerok ini semua. Betapa tidak dengan globalisasi dunia menjadi borderless, terbentuk lah pasar bebas, perusahaan-perusahaan negara di privatisasi, mereka yang punya duit dapat membeli apa saja dibelahan dunia mana saja *kecuali di negara sosialis seperti cuba*. Sumber daya alam dikuras habis-habisan demi keuntungan trans nasional corporation yang menjadi motor utama globalisasi, sementara negara sebagai pemilik sumber daya alam hanya kebagian upilnya dan rakyat setempat hanya menjadi penonton. Ditambah lagi mental korup pejabat publik. Gambaran ini terdengar bombastis tetapi inilah realita yang ada.

 

Belakangan ini kita mendengar, melihat dan merasakan terjadinya peningkatan harga komoditas seperti minyak bumi dan CPO (minyak kelapa sawit mentah). Kenaikan ini membuat  dunia kelimpungan karena komoditas ini bisa disebut komoditas primer, dan kenaikan harga akan memicu inflasi.  Menurut analis peningkatan harga disebabkan oleh strong demand dari pasar. Ini bisa dibenarkan dalam hukum ekonomi bila demand meningkat maka harga akan naik. Tetapi bila dicermati mungkinkah harga minyak bumi bisa melonjak 200% dalam kurun waktu tiga tahun meskipun permintaan melonjak?

 

Secara hitungan bodoh aja bila seorang penduduk dunia membutuhkan minyak seliter sehari maka harga akan naik 100% bila kebutuhan meningkat menjadi dua liter sehari, atau kebutuhan tetap tetapi jumlah penduduk meningkat menjadi dua kali lipat. Apakah rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 200% dalam tiga tahun? Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia hanya satu digit pertahun. Apakah suplai yang menurun? Bisa jadi tetapi reserve terbukti saat ini masih cukup untuk 20 tahun mendatang. Jadi apa penyebabnya?

 

Para ekonom dan analis menuduh para hedge fund lah yang menjadi biang masalah gonjang ganjing ini. Hedge fund ini adalah manajer investasi dari investasi kolektif semacam reksadana yang kliennya adalah manusia superkaya dunia. Hedge fund dituntut untuk selalu memberikan keuntungan kepada nasabah mereka. Tuntutan seperti ini membuat para manajer investasi hedge fund menggunakan segala cara untuk memenuhi tuntutan klien dan mereka ini banyak yang melakukan kecurangan, manipulasi dan spekulasi. Dana mereka sangat besar. Menurut informasi terakhir ada 516 triliun dolar AS *hitung sendiri berapa rupiah tuh*. Dengan dana sebesar itu mereka dapat mengontrol harga komoditas maupun saham dan mengeruk keuntungan.

 

Hedge fund ini menari-nari didepan penderitaan orang lain. Mereka tambah kaya sedangkan yang lain bertambah miskin. Uang memang paling berkuasa didunia. Tetapi menurut gw masih ada yang lebih berkuasa yaitu tuhan. So bagaimana tuhan akan menunjukkan kekuasaannya? Apakah kapitalisme akan berakhir? Sepertinya tidak karena kapitalisme sangat dekat dengan nafsu manusia. Seberapa banyak manusia yang dapat menahan nafsu untuk menjadi kaya dan hidup senang? Jawab sendiri deh...


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help